Telepon Misterius

Aku terbangun karena bunyi ponselku.

"Siapa yang menelepon malam-malam begini?" Pikirku.

Lalu merubahnya ke mode diam dan menghilangkan getarnya. Keesokan paginya aku mendapatkan pesan yang entah dari siapa.

"Tega sekali kau melakukan ini padaku." Begitulah isinya.

Apa-apaan ini tidak tahu siapa tahu-tahu mengirim pesan begini. Saat tengah malam ponselku berdering lagi, dari nomor yang mengirimku sms tadi pagi tanpa ragu langsung kuangkat.

Baca Juga:

"Hallo... hentikan ini, sekali lagi kau menelepon atau mengirim pesan akan kulaporkan ke polisi." Tanpa mendengar sepatah kata darinya langsung ku matikan ponselku.

Hari ini aku habis lembur. Sepulang dari kantor aku mencharge ponselku lalu ku tinggal mandi. Tak lama ponselku berdering lagi, dengan berbalut mantel handuk aku menuju kamar dari luar kamar aku mendengar seseorang bicara. Tanpa ragu aku mendobrak pintu kamarku.

"Siapa disana?" Teriakku.

Ternyata sepupuku, dia sangat terkejut saat tertangkap basah memakai ponselku. Ternyata diam-diam dia suka menghubungi mantan pacarnya menggunakan ponselku. Karena beberapa hari lalu dia berlibur jadi sang mantan terus menghubungiku. Aku sedikit kesal, bisa-bisanya menghubungi mantan pakai ponsel orang lain.

"Jadi dimana mantanmu itu?" Tanyaku sedikit lantang pada sepupuku.
"Dia meninggal 1 bulan lalu. Ayah dan Ibunya menaruh ponsel di peti matinya. Agar disana dia tidak kesepian. Siapa yang sangka ternyata dia benar-benar menghubungi" Dia menghentikan ceritanya. Dia juga tidak bilang kenapa pakai nomorku untuk menghubungi mantannya itu.

Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. "Ada sms.. dari mantanmu." Aku membukanya. Sepupuku ikut menempelkan pipinya ingin lihat apa yang dikirimnya. "Hah..? Layar kosong." Aku terus scorll kebawah yang ada hanya layang kosong. Sampai akhirnya kami melihat gambar 2 orang dari belakang.

"Ini seperti kita..." Bisik sepupuku. Aku memberi isyarat diam, lalu memberikan aba-aba untuk menengok kebelakang bersama. Saat menengok ke belakang seorang pria memakai jas putih, wajahnya pucat, kepala masih berlumuran darah menatap penuh dendam kearah kami.

"Akhirnya lengkap." Dengan suara datar lalu tersenyum sinis mendekati kami, lalu jatuh sebuah artikel koran kecelakaan sepeda motor yang membuatku ingat aku melindas seseorang bulan lalu.


Penulis:Mirukichigo